MENGEMBALIKAN REPUTASI MINYAK KELAPA MURNI (Virgin coconut oil) DALAM DUNIA GIZI DAN KESEHATAN
Introduksi
Selama sekitar 3960 tahun yag lalu, dari 4000 tahun sejak adanya catatan sejarah, telah diketahui penggunaan buah kelapa sebagai bahan makanan dan kesehatan. Penggunaan minyak kelapa di seluruh dunia –khususnya di daerah tropis– merupakan suatu hal yang umum, yaitu di Amerika Tengan dan Selatan, Afrika, anak benua India, Mikronesia, Melanesia, Polinesia, dan Asia. Manfaat buah kelapa itu sangat dihormati, bahkan tercantum dalam pengobatan Ayurweda dalam bahasa sansekerta pada tahun 1500 SM, mencakup manfaat bagi pikiran, tubuh, dan rohani (mind, body, spirit).
Akan tetapi, semua itu berubah pada tahun 1950-an, saat penyakit jantung koroner telah menjadi penyebab utama kematian di kalangan orang dewasa di Amerika. Ancel Keys dapat dikatakan sebagai pelopor dari kampanye anti lemak jenuh di amerika serikat. Sejak tahun 1953 – 1957, Keys membuat serangkai pernyataan antara lain: ” Semua lemak meningkatkan kadar kolesterol dalam darah. Hampir setengah dari total lemak berasal dari lemak nabati dan minyak, tidak ada perbedaan dari lemak hewan maupun lemak nabati dalam hal efek terhadap penyakit jantung koroner (1953). Jenis lemak pun tidak ada bedanya, maka perlu mengurangi konsumsi margarin dan shortening (1956). Semua lemak adalah sama saja. Lemak jenuh meningkatkan kolesterol, sedangkan lemak poli-tak jenuh menurunkan kolesterol. Lemak nabati yang dihidrogenasi adalah biang keladi dari masalah penyakit jantung koroner. Demikian pula lemak hewan adalah penyebab penyakit jantung koroner (1957 – 1959)”.
David Kritchevsky pada tahun 1954 juga mempublikasikan dua hasil penelitian. Penelitian pertama tentang efek pemberian kolesterol kepada kelinci, yang ternyata menyebabkan tersumbatnya pembuluh darah dan berpotensi menyebabkan penyakit jantung. Berikutnya Kritchevsky menyatakan bahwa manfaat dari mengonsumsi lemak poli-tak jenuh dari minyak jagung, kedelai, safflower, dan biji bunga matahariuntuk menurunkan kadar kolesterol darah, meskipun hanya untuk semantara waktu. Teori Kritchevsky ini didukung oleh hipotesis lemak yang menyatakan bahwa lemak jenuh dan kolesterol dari hewan dapat menaikkan kadar kolesterol dalam darah. Hal ini menyebabkan penumpukan kolesterol dan asam lemak sebagai sumbatan dalam pembuluh darah arteri. Meskipun banyak penelitian pada masa itu yang bertentangan, namun masyarakat sudah terlanjur beranggapan bahwa lemak jenuh itu berbahaya bagi kesehatan jantung. Akhirnya banyak orang takut mengonsumsi minyak kelapa dikarenakan minyak tersebut telah dianggap dapat meningkatkan kadar kolesterol darah.
Kontroversi penggunaan minyak kelapa sebagai minyak goreng, pertama kali terjadi di Amerika Serikat. Dan terus berlanjut hingga mencapai puncaknya pada tahun 1980-an dengan kampanye anti minyak tropis, yaitu ”minyak kelapa mengandung minyak jenuh yang menjadi penyebab munculnya penyakit modern seperti jantung koroner, kolesterol, dan obesitas”. Akibatnya, harga dan pasar minyak kelapa jatuh sejak tahun 1960-an. Dan sebagai gantinya merekan mengampanyekan untuk menganti dan mengonsumsi minyak kedelai atau minyak nabati lain yang tidak mengandung lemak jenuh. Dan sebuah kampanye pemasaran yang dibiayai oleh industri minyak kedelai dan minyak jagung dan didukung oleh Asosiasi Jantung Amerika, bertekad untuk merubah American Diet, mengganti lemak jenuh menjadi lemak tak jenuh dengan diet yang disebut Prudent Diet.
Titik Balik
Setelah beberapa dasawarsa, ternyata tuduhan terhadap minyak kelapa tidak terbukti, bahkan yang terjadi adalah sebaliknya. Pengguna minyak nabati yang mengandung lemak tak jenuh banyak yang terkena panyakit. Dan penelitian modern yang lebih kritis mulai memperlihatkan bahwa perubahan diet berdasarkan bukti yang diajukan oleh Ancel Keys, dan David Kritchevsky ternyata terlalu dini. Sebuah tulisan editorial oleh Walter Willett dari Universitas Harvard dalam American Jurnal of Public Health (1990) mengungkapkan bahwa, meskipun fokus dari rekomendasi diet biasanya adalah mengurangi asupan lemak jenuh, namun tidak ada hubungan antara asupan lemak jenuh dan resiko penyakit jantung koroner yang tercatat di dalam penelitian mutakhir.
Prior et al. (1981) menemukan bahwa penduduk pedalaman yang mengonsumsi minyak kelapa dalam jumlah banyak, ternyata tidak berdampak apapun yang membahayakan kesehatan. Tetapi ketika mereka pindah ke Selandia Baru dan menurunkan asupan minyak kelapanya, maka kolesterol total LDL mereka naik, sedangkan HDLnya turun.
Awad pada tahun 1981 melakukan penelitian dengan membandingkan efek dari makanan yang masing-masing mengandung 14% minyak kelapa, 14% minyak safflower, dan perlakuan kontrol berupa minyak kedelai 5%, terhadap akumulasi kolesterol dalam jaringan tikus Wistar jantan. Makanan sintesis ditambah 2% minyak jagung dengan total lemak 16%. Akumulasi total kolesterol dalam jaringan hewan yang diberi safflower 6 kali lebih besar dibandingkan dengan yang diberi minyak kelapa, dan 2 kali lebih besar dibandingkan dengan perlakuan kontrol.
Keistimewaan Virgin Coconut Oil
Minyak kelapa murni (virgin coconut oil) merupakan minyak kelapa yang diproses tanpa pemurnian (bleaching, deodorizing), tanpa pemanasan atau dengan pemanasan seminim mungkin. Minyak kelapa mengandung asam lautan yang tinggi (45% – 55%), dan juga mengandung asam lainya. Asam laurat adalah lemak jenuh dengan rantai sedang atau disebut dengan trigliserida rantai sedang (medium chain triglycerida atau MCT).
Karena minyak kelapa murni (virgin coconut oil) mengandung MCT, setelah dicerna dalam saluran pencernaan, akan langsung diserap melalui dinding usus tanpa melalui proses hidrolisis dan enzimatik, kemudian dipasok ke dalam aliran darah dan langsung dibawa ke organ hati untuk diproses menjadi energi dan untuk meningkatkan fungsi semua kelenjar endokrin, organ dan jaringan tubuh. Sedangkan minyak sayur lainya, seperti minyak bunga matahari, minyak kedelai, minyak jagung, yang ukuran molekul asam lemaknya lebih besar, perlu diproses dahulu di dalam saluran pencernaan melalui proses hidrolisis dan emulsi dengan bantuan cairan empedu dan enzim kelenjar pangkreas. Hasil penguraian unit-unit asam lemak bebas tersebut disusun kembali dan dikemas menjadi lipoprotein, selanjutnya dipasok keorgan hati untuk metabolisme dan produknya didistribusikan ke semua kelenjar endokrin, organ dan jaringan tubuh dalam bentuk energi, sementara kolesterol dan sisa lemaknya ditimbun di jaringan tubuh.
Trigliserida minyak kelapa di dalam tubuh akan dipecah menjadi lebih sederhana yaitu digliserida, monogliserida, dan asam lemak bebas. Monogloserida dan asam lemak bebas inilah yang memiliki sifat antimikroba. Dan asam lemak bebas yang paling aktif adalah asam laurat dan asam kaprat dengan senyawa monogliseridanya. Asam laurat dan asam kaprat mampu menembus lapisan lipid luar pada virus sehingga bersifat antivirus. Dan keduanya saat ini dikembangkan menjadi bahan untuk melawan virus HIV dan Hepatitis B dan C.
Adanya aspek lain dari gambaran penyakit jantung koroner. Hal ini berkaitan dengan asal-mula terbentuknya antheroma yang menyumbat arteri. Penelitian mutakhir menyatakan bahwa terdapat peranan dari virus herpes dan virus cytomegalo dalam pembentukan bercak-bercak antherosklerosis dan penyumbatan ulang arteri sesudah operasi jantung (angioplasty) (New York Times, 1991). Dan yang menarik adalah bahwa virus herpes dan virus cytomegalo, keduanya dapat dihambat oleh monolaurin yang tidak dapat dibentuk oleh tubuh, tetapi harus ada sumbernya yang berupa asam laurat dalam makanan. Sedangkan minyak kelapa murni mengandung banyak asam laurat.
Tutup
Kelapa merupakan sumber daya alam yang menakjubkan, khususnya minyak kelapa murni (virgin coconut oil) yang memiliki fungsi dan peranan yang sangat banyak, baik dari segi nutrisionalnya maupun farmasetikalnya. Dan telah cukup lama reputasinya menurun, dikarenakan beberapa teori yang telah menjustifikasi bahwa minyak kelapa murni memiliki kandungan lemak jenuh yang dapat menaikkan kolesterol dan menyebabkan penyakit jantung koroner.
Hal terpenting saat ini adalah penelitian medis modern telah memungkinkan secara ilmiah meruntunkan teori tentang minyak kelapa yang terdahulu. Namun yang tidak kalah penting, minyak kelapa murni (virgin coconut oil) dapat diterima kembali oleh beberapa kalangan masyarakat. Dan oleh karena itu, masyarakat tidak perlu lagi diselimuti kekalutan tentang dampak buruk dari mengkonsumsi minyak kelapa murni (virgin coconut oil).
Daftar Pustaka
Amin S. 2009. Cocopreneurship – Aneka Peluang dari Kelapa. Penerbit Lily Publiser. Yogyakarta.
Budiyanto MAK. 2002. Dasar-dasar Ilmu Gizi: Edisi Revisi. Penerbit UMM Press. Malang.
Budiyanto MAK. 2009. Hand Out-2: Kajian Gizi Karbohidrat, Lemak, dan Protein. Malang.
Darmoyuwono W. 2006. Gaya Hidup Sehat dengan Virgin Coconut Oil. Penerbit Indeks. Jakarta.
Suhardiyono L. 1988. Tanaman Kelapa – Budidaya dan Pemanfaatannya. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. oleh : wawan wahyudi (youd_w21@yahoo.com)

0 comments:
Post a Comment